Emh… cinta memang tak selamanya indah. Tak jarang kehadiran cinta dalam hati kita justru ‘hanya” menambah buruk permasalahan yang telah ada. Dan yang lebih buruk,
hadirnya cinta justru membuat kita mengeluh “Kenapa sih Tuhan harus menghadirkan cinta,
kalau keadaannya mesti seperti ini,
hanya membuat hati tersiksa dan jiwa terpenjara
”.

Seperti pepatah bilang “one cannot choose love,
it is love that chooses
”,
hingga ka dang kita tak mengerti,
“kenapa sih harus jatuh cinta sama si A,
padahal dia itu kan seorang ……” Yups cinta datang memang tak meman dang bulu,
untuk siapa dan pada siapa kita jatuh cinta.

Pertanyaannya sekarang,
bagaimana bila kita terlanjur jatuh cinta pada seorang jablay? Apakah kita akan berusaha menciptakan kisah seperti di sinetron-sinetron teve,
jadi seorang “hero” yang mampu mengubah dia menjadi seseorang yang lebih baik? Atau malah sebaliknya,
justru kita sendiri yang akhirnya harus terseret kedalam dunia dia?

Alkisah,
seorang teman penulis pernah mengalami kondisi seperti ini,
jatuh cinta pada orang yang salah. Cinta yang dikhayalkan begitu indah,
dan tentunya mampu memberikan ketenangan bathin,
justru malah hadir dalam wujud yang sebaliknya. Mencintainya dari hari ke hari hanya memberikan sakit hati dan tentunya makan hati yang tiada ujung.

Bayangin,
saat dia berada di rumah sang pacar,
sang pacar malah asyik SMS-an sama cowo lain di belakangnya. Yang sangat menyakitkan lagi,
suatu hari dia diminta oleh keluarga sang pacar untuk datang ke rumahnya membantu keluarga sang pacar mempersiapkan sebuah acara keluarga. Anda pasti akan mengira bahwa si teman penulis ini akan merasa bahagia,
karena dia bisa sekalian “apel” dan memanfaatkan moment ini untuk bisa berduaan dengan sang pacar?

Tapi… yang terjadi malah sangat menyakitkan,
si teman penulis ini justru harus cape membantu keluarga sang pacar,
se dangkan sang pacar sendiri (tanpa sepengetahuannya) justru malah asyik pergi dengan cowok lain?!! Bayangin,
pasti menyakitkan kan?

Mungkin bagi teman penulis,
cinta adalah urusan hati dan perasaan,
tapi pan dangan berbeda ditunjukkan oleh sang pacarnya,
bahwa cinta adalah urusan senang,
uang dan kepuasaan! Tak mengherankan karena perbedaan pan dangan inilah yang akhirnya melahirkan kisah cinta yang tak sejalan dan tak searah. Dan dis ini cinta menampakkan wujud dualismenya,
bahwa dia (cinta) tak selamanya indah!

Awalnya si teman penulis,
bertekad ingin berusaha “mengubah” sang pacar,
biar bertobat dan menjadikannya seorang yang lebih baik? Tapi… ini hidup bung!… bukan sinetron dengan happy ending. Dalam dunia nyata,
mengubah jalan hidup seseorang bukanlah hal mudah. Mengubah sikap dan sifat seseorang tidak bisa dilakukan dalam beberapa episode seperti di sinetron-sinetron. Seseorang yang sudah terbiasa dengan “jalan hidupnya”,
akan sangat sulit untuk meninggalkan jalannya tersebut,
terkecuali dia mendapat suatu mukjizat dan sadar bahwa jalan yang ditempuhnya itu salah.

Akhirnya,
daripada makan hati terus menerus teman penulis memutuskan dengan bulat hati,
bahwa “dunia tetap berputar tanpanya”. Yups,
akhirnya dia nggak tahan dan memilih untuk melupakan sang pacar tersebut.

Sebuah kisah yang mungkin tidak mencerminkan “semangat pantang menyerah”,
tapi… bila ternyata Tuhan menciptakan seseorang yang lebih baik untuk kita,
lalu kenapa kita harus mempertahankan seseorang yang hanya akan memberikan penderitaan bathin pada kita. Kita sebagai manusia selalu berharap mendapatkan yang terbaik dalam hidup,
dan yakinlah kita memang akan mendapatkan yang kita harapkan tersebut. Bila kita menginginkan cinta yang murni dan suci,
yakinkah bahwa kita memang mampu mendapatkan cinta seperti ini. Jadi,
jangan ragu untuk terus mencari dan berusaha sampai kita mendapatkan apa yang memang benar-benar kita inginkan dalam hidup ini.

loading...

Baca Selanjutnya :

  • No Related Posts