Kemajuan teknologi tak selamanya berdampak positif. Perkembangan pesat internet,
selain memberikan sisi baik,
juga memberikan dampak negatif yang kadang justru lebih membahayakan. Sebagai contoh nyata dari dampak negatif internet adalah maraknya pelacuran di dunia maya ini. Internet kini dijadikan sebagai media “transaksi” para jablay online yang dengan gigih mencari para hidung belang di dunia maya.

Yups kalau zaman dulu para penjaja cinta ini memanfaatkan waktu malam hari untuk mulai menjalankan ‘usahanya’ dan standby di tempat-tempat umum seperti terminal,
pinggir-pinggir jalan,
warung remang-remang,
ataupun alun-alun. Kini dengan kemajuan pesat internet,
ditambah dengan ‘pengetahuan teknologi” yang dimilikinya,
para penjaja cinta alias jablay online ini kini memanfaatkan media internet untuk mempromosikan dirinya. Sebagai media yang tak kenal batas waktu dan jarak,
para jablay online pun kini tak terpaku pada waktu,
kapan dan dimanapun mereka bisa bebas mempromosikan diri.

Keuntungan dari penggunaan media online ini,
para Jablay online bisa ‘menjaga’ agar harga dirinya tetap ‘baik’ di depan publik alias masyarakat umum. Karena semua transaksi cinta yang dilakukan hanya diketahui oleh ‘konsumen’ dan dirinya sendiri,
tanpa ada orang lain yang tahu. Tanpa perlu berdandan rapi,
atau nongkrong di tempat-tempat umum (yang bisa membuat image mereka tercoreng di mata masyarakat),
mereka bisa terus menjaja cinta. Kalau pun mereka harus berdandan cantik tentu setelah ada calon konsumen yang benar-benar bakal membookingnya.

Skema yang dipergunakan para jablay online memang sangat rapi. Pertama mereka memanfaatkan situs jejaring sosial atau website social networking sebagai media mempromosikan diri. Jangan heran kalau anda pasti pernah melihat foto-foto seksi dan berani (setengah nude) di Friendster,
Facebook atau MySpace. Yups,
kebanyakan para jablay online memang menjadikan situs jejaring sosial ini sebagai media untuk menjaring para hidung belang. Siapapun orangnya pasti akan menelan ludah dan terkesima,
kalau melihat foto-foto seksi nan vulgar apalagi kalau kita bisa langsung berinteraksi dengan orang di foto tersebut,
wah… siapapun pasti bakal tertarik.

Awalnya mungkin cuma kasih comment-comment atau testi biasa,
setelah agak serius baru si penjaja cinta ini memberikan fasilitas Instant Messaging alias chatting dengan calon korban,
setelah benar-benar yakin,
langkah selanjutnya adalah memberikan no. handphone kepada si calon korban. Biasanya kalau sudah memasuki tahap nelp dan sms,
sudah bisa dipastikan bahwa “transaksi” bakal terjadi. Waktu,
dan tempat bisa disepakati melalui telepon,
dan semua biaya “administrasi” harus ditanggung oleh si calon korban,
mulai dari biaya telp. (Kebanyakan para Jablay online bakal minta pulsa senilai tertentu,
antara 150 sampai 300 ribu untuk meyakinkan bahwa si calon korban memang serius dan tidak main-main),
hotel,
sampai antar jemput.

Cukup rapi bukan? Siapapun orangnya pasti bakal tidak menyangka,
dia (Jablay online,
red) sehari-harinya cuma diem di rumah,
bergaul biasa-biasa saja dengan tetangga,
tak pernah nongkrong di jalan,
eh ternyata……. seorang kupu-kupu cinta. Perkembangan teknologi,
terutama media internet telah memberikan ‘keuntungan’ bagi mereka untuk melakukan penyamaran dan kamuflase serapi dan sebaik mungkin. So,
memang benar kata orang tua dulu,
kalau penampilan luar itu terkadang menipu!

Ternyata,
perkembangan teknologi tidak hanya membuat manusia semakin maju dalam kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat saja,
tapi juga perkembangan teknologi menjadikan “kemaksiatan” yang telah ada sejak zaman kuno,
menjadi lebih modern dan dikemas dengan bentuk yang baik dan rapi,
sehingga mampu menyamarkan dirinya.

loading...

Baca Selanjutnya :

  • No Related Posts