Tak bisa dipungkiri dengan teknologi hidup kita menjadi semakin mudah,
efisien dan tentunya semakin memanjakan kita. Malam-malam laper,
di rumah tidak ada makanan,
dan kita males keluar,
tinggal gunakan telepon,
pesan makanan,
maka tak kurang dari 30 menit makanan yang kita pesanpun sampai di rumah kita. Atau anda mencari sebuah informasi,
tidak perlu datang ke perpustakaan mencari-cari di tumpukan buku yang bisa menghabiskan berjam-jam lamanya,
tapi cukup anda cari di “Search Engine” dalam hitungan detik,
informasi yang anda cari bisa terpampang dengan jelas.

Tapi ibarat sebuah koin yang mempunyai dua buah sisi,
keberadaan teknologi justru semakin hari semakin membuat kita kehilangan seni untuk berpikir. Bagaimana tidak,
untuk memecahkan sebuah perhitungan sederhana saja misal mencari hasil dari 75 x 12,
kita lebih senang memakai kalkulator daripada berpikir secara alami dengan menggunakan otak kita. Tak mengherankan karena sudah terbiasa menggunakan berbagai macam teknologi,
kita pun akhirnya “enggan” berpikir dan lebih memilih menggunakan teknologi untuk mencari penyelesaian instan dari masalah kita. Akibatnya otak kita atau pikiran kita menjadi tidak terlatih untuk menghadapi persoalan-persoalan yang muncul secara spontan.

Padahal dalam kehidupan ini,
banyak sekali hal yang justru harus dipecahkan dengan menggunakan kemampuan berpikir kita. Contoh kecil,
saat anda akan menyatakan  perasaan cinta pada seseorang,
oke teknologi memang bisa dimanfaatkan untuk mempermudah maksud anda tersebut,
tapi tentu saja niat anda tersebut akan lebih sukses jika anda menggunakan kemampuan otak anda sendiri. Dengan kemampuan berpikir kita,
kita bisa menyusun kata-kata yang romantis,
menciptakan suasana yang benar-benar indah dan dengan menggunakan kemampuan berpikir,
kita juga bisa menyatakan cinta dengan penuh rayuan-rayuan gombal,
atau juga dengan pengharapan-pengharapan yang setinggi langit.

loading...

Baca Selanjutnya :

  • No Related Posts